BRANDING PAHALA ATAU BERHALA?

Jika disebut sebuah nama kemudian langsung teringat akhirat maka nama tersebut dari brandingnya saja sudah berpahala. Demikian sebaliknya jika nama itu disebut langsung teringat nafsu keserakahan yang menjauhkan dariNya maka branding tersebut adalah berhala baru. Dalam pelajaran marketing membuat branding dan terus memperkuat branding itu mutlak. Maka terus menerus merepetisi, mempromosikan, mendisplay, memunculkan, mengiklankan, memperluas exposure itu adalah kewajiban marketing memperkuat branding jika tidak ingin ditinggalkan konsumen. Pencitraan juga menjadi strategi marketing untuk mendikte benak konsumen. Meski pada akhirnya transparansi jaman akan membuka kedoknya.

Namun yang lebih penting dari sekedar capaian marketing yaitu apa yang telah diperbuat oleh branding tersebut di tengah-tengah masyarakat. Positif atau negatif? Karena kesalahan ideologis dalam membranding akan menjadi dosa jariyah. Dosa yang terus bersambung meski pemiliknya telah meninggal. Pemilik branding ‘bom sex’ atau ‘khayalan liar lawan jenis’ akan menanggung dosa jariyah. Demikian pula dengan penganjur gaya hidup mewah, hedonis, konsumtif, bersenang-senang, tukang pamer juga bisa menjadi branding dosa jariyah. Itulah branding ‘pengajak keburukan’. Pilihan terbaik bagi kita adalah branding yang mengandung pahala jariyah. Pemilik brandingnya sudah meninggal pahalanya terus mengalir. Semoga STIFIn berada disitu karena DNA STIFIn adalah DNA kebaikan. Dan jauhkanlah STIFIn dari menjadi berhala baru ■ 230418

Farid Poniman
Penemu STIFIn